AKTA PENDIRIAN: NO. DAFTAR: 5014051031100342/NO. AHU: 01313.50.10.2014    kedatonnusantara.id    itdc.know@kedatonnusantara.id
SITUS WEB INI DIMILIKI DAN DIOPERASIKAN OLEH JEMAAH MAJLIS KEDATON NUSANTARA. SEBARANG IMITASI DAN PENIPUAN ADALAH DENCEGAH DAN AKAN DIBAWA KE PENGADILAN

SEJARAH NUSANTARA

)Sriwijaya merupakan nama sebuah kerajaan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena Sriwijaya merupakan salah satu Kerajaan Maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada masa itu (abad ke 7 – 15 M). Jika kita ingin mengetahui perkembangan Sriwijaya hingga mencapai puncak kebesarannya sebagai kerajaan maritim, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu sumber-sumber sejarah yang membuktikan keberadaan kerajaan tersebut. Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya selain berasal dari dalam juga berasal dari luar seperti China, India, Arab dan Persia.

KEHIDUPAN POLITIK

Dalam kehidupan politik diketahui Raja Kerajaan Sriwijaya yang pertama adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga dengan pusat kerajaannya terdapat 2 pendapat yaitu:

Pendapat Pertama

Yang menyebutkan pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang karena didaerah tersebut banyak ditemukan bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya dan keberadaan Sungai Musi yang strategis untuk perdagangan.

Pendapat Kedua

Kerajaan Sriwijaya terletak di Minangatamwan yang merupakan pertemuan Sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan yang diperkirakan merupakan Binaga yang terletak di Jambi yang juga strategis untuk perdagangan.

Dari 2 pendapat tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Palembang, kemudian berpindah ke Minangatamwan. Untuk meneruskannya, Kerajaan Sriwijaya mampu memperluas kerajaannya melalui keberhasilan politik memperluas wilayahnya ke wilayah-wilayah yang sangat penting artinya untuk perdagangan. Hal ini sesuai dengan bukti keberadaan yang ditemukan di Lampung, Bangka, dan Ligor. Bahkan lewat l-tshing news bahwa Kedah di Pulau Penang (Malaysia) juga dikuasai Kerajaan Sriwijaya.

Dengan demikian, Kerajaan Sriwijaya bukan lagi sebuah negara biasa atau sebuah pulau, melainkan sudah menjadi Negara Kepulauan karena dominasinya atas beberapa pulau. Bahkan ada yang berpendapat Kerajaan Sriwijaya merupakan negara bersatu pertama karena kekuasaannya luas dan berperan sebagai negara besar di Asia Tenggara (M.Yamin). Untuk memperjelas pengertian wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya,

PETA OTORITAS PEMERINTAH SRIWIJAYA

KEHIDUPAN EKONOMI

Kerajaan Sriwijaya mempunyai kedudukan yang strategis dalam jalur pelayaran dan perdagangan internasional Asia Tenggara. Dengan letaknya yang strategis, Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan menjadi pelabuhan transit sehingga dapat menampung barang-barang dari dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, kedudukan Kerajaan Sriwijaya dalam perdagangan internasional sangat baik. Hal ini juga didukung oleh Raja yang efisien dan bijaksana seperti Balaputra Dewa.

Pada saat itu Kerajaan Sriwijaya mempunyai Angkatan Laut yang kuat, mampu menjamin keamanan di jalur pelayaran menuju Kerajaan Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Dengan hadirnya para pedagang dari luar yang singgah, pendapatan Kerajaan Sriwijaya meningkat pesat. Peningkatan tersebut diperoleh dari pembayaran upeti, pajak, dan keuntungan. dari hasil perdagangan.

Karena itu. Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan yang besar dan makmur. Faktor lain yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah kehidupan sosial masyarakatnya yang meningkat pesat, terutama di bidang pendidikan. Hasilnya, Kerajaan Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan pemberitaan I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 pendeta yang mempelajari agama Buddha di bawah bimbingan pendeta Buddha terkenal Sakyakirti. Selain itu para pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Buddha dan ilmu-ilmu lainnya di India, hal ini tercatat dengan adanya bukti Nalanda.

Dari bukti tersebut diketahui pula bahwa Raja Sriwijaya yaitu Balaputra Dewa memiliki hubungan dekat dengan Raja Dewa Paladewa (India). Raja ini memberikan sebidang tanah untuk asrama pelajar dari Kerajaan Sriwijaya. Sebagai seorang penganut agama yang taat, Raja Sriwijaya juga menaruh perhatian terhadap keberlangsungan kolonialismenya (terbukti dengan adanya Talang Tuo yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Oleh karena itu kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Sriwijaya sangat baik dan sejahtera, dalam hal ini tentunya juga diikuti dengan kemajuan di bidang kebudayaan. Kemajuan di bidang kebudayaan hingga saat ini dapat diketahui melalui sisa-sisa peninggalan suci seperti stupa, candi atau patung Budha yang terdapat di Jambi, Muaratakus dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang). Untuk lebih memahaminya silahkan cek peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada gambar dibawah ini.

PATUNG BUDHA DI BUKIT SIGUNTANG

Pernahkah Anda melihat patung itu? Merupakan gambar patung Budha setinggi 2 meter yang berasal dari abad sebelum masehi, dengan gambar tersebut membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Budha. Kebesaran dan kesuksesan Sriwijaya akhirnya mengalami kemunduran dan kehancuran akibat serangan dari kerajaan lain.

• Serangan pertama yang dilakukan Raja Dharmawangsa dari Medang Jawa pada tahun 990 Masehi. Saat itu Raja Sriwijaya adalah Sri Sudarmaniwarma Dewa. Meski gagal, serangan tersebut juga bisa melemahkan Kerajaan Sriwijaya;

• Serangan selanjutnya datang dari kerajaan Colamandala (India Selatan) yang terjadi pada masa pemerintahan Sangramawijayatunggawarman pada tahun 1023 dan terulang kembali pada tahun 1030 dan Raja Sriwijaya berhasil ditangkap;

• Pada tahun 1068, Raja Wirarajendra dari Colamandala kembali menyerang Sriwijaya namun Sriwijaya tidak runtuh bahkan pada abad ke 13, Sriwijaya dikabarkan muncul kembali dan cukup kuat menurut berita China;

• Runtuhnya Sriwijaya terjadi pada tahun 1477 ketika Majapahit mengirimkan pasukannya untuk menaklukkan Sumatera termasuk Sriwijaya.

KERAJAAN MAJAPAHIT

Sepeninggal Raja Sri Kertanegara, Kerajaan Singhasari berada di bawah kekuasaan Raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah satu keturunan penguasa Singhasari yaitu Raden Wijaya kemudian berusaha merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia merupakan keturunan Ken Angrok, Raja Singhasari pertama dan putra Dyah Lembu Tal. Ia juga dikenal dengan nama lain yaitu Nararyya Sanggramawijaya.

Menurut sumber sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah menantu Kertanagara yang masih dianggap keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua orang putri raja sekaligus, namun dalam kitab Nagarakertagama disebutkan bahwa ia mengawini keempat putri Kertanagara, bukan dua.

Ketika Jayakatwang menyerang Singhasari, Raden Wijaya diperintahkan untuk mempertahankan ibu kota di utara. Kekalahan yang dialami Singhasari menyebabkan Raden Wijaya mengungsi ke sebuah desa bernama Kudadu karena lelah dikejar musuh yang hanya tersisa dua belas orang. Berkat bantuan Kepala Desa Kudadu, rombongan Raden Wijaya dapat menyeberangi lautan menuju Madura dan disana mendapat perlindungan dari Aryya Wiraraja, seorang Bupati di pulau ini.

Berkat pertolongan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian dapat kembali ke tanah Jawa dan diterima oleh raja Jayakatwang. Tidak lama kemudian ia diberikan sebuah kawasan di hutan Terik untuk dibuka menjadi desa, dengan cara menunggu serangan musuh dari utara sungai Brantas. Berkat bantuan Aryya Wiraraja, ia kemudian mendirikan desa baru yang diberi nama Majapahit.

Pada tahun 1215 Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja pertama dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Keempat anak Kertanegara diangkat menjadi ratu bergelar Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari, Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita. Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnyaparamitā, dan Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri. Dari Tribhuwaneswari ia mendapat seorang putra bernama Jayanagara sebagai putra mahkota yang memerintah di Kadiri. Dari Gayatri ia mendapat dua orang putri. Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani yang bersemayam di Jiwana (Kahuripan) dan Rajadewi Maharajasa di Daha. Raden Wijaya masih menikah dengan istri lain, kali ini dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan mempunyai seorang anak darinya bernama Kalagemet. Wanita lain yang juga datang bersama Dara Petak, Dara Jingga, ditahan oleh kerabat raja yang bergelar 'dewa' dan mempunyai seorang putra bernama Bhatara Janaka, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Adhityawarman, raja Melayu. kerajaan di Sumatera.

Pada tahun 1522, Majapahit tidak lagi disebut sebagai kerajaan melainkan hanya sebuah Kota. Pemerintahan di Pulau Jawa beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, putra Raden Patah pendiri kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhumi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas kepedihan neneknya yang telah dikalahkan oleh raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Dengan demikian, pada tahun 1478, Majapahit hancur sebagai kerajaan penguasa nusantara dan berubah menjadi wilayah jajahan yang ditaklukkan oleh Raja Demak. Mengakhiri rantai dominasi raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Angrok ketika mendirikan kerajaan Singhasari, digantikan dengan bentuk pemerintahan baru yang berdasarkan agama Islam.

Kronik Jawa dan tradisi Demak, keabsahan Raden Patah karena ia merupakan putra raja Majapahit Brawijaya V dengan seorang putri Tionghoa. Catatan sejarah dari China, Portugal (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) menunjukkan bahwa telah terjadi peralihan kekuasaan kerajaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa Kesultanan Demak, antara 1518 dan 1521 M[28]. Demak memastikan posisinya sebagai kekuatan daerah dan menjadi pemerintahan Islam pertama yang berdiri di Pulau Jawa. Saat itu setelah runtuhnya Majapahit, satu-satunya kerajaan Hindu yang masih bertahan di Pulau Jawa adalah kerajaan Blambangan di ujung timur, serta kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran di bagian barat.

Islam perlahan mulai menyebar ketika komunitas Hindu mundur ke pegunungan dan ke Bali. Beberapa sisa masyarakat Hindu Tengger masih bertahan di kawasan pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru.

Kerajaan Demak merupakan pemerintahan Islam pertama di Pulau Jawa. Dahulu Kerajaan Demak merupakan kadipaten bawahan Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1500 hingga 1550 (Soekmono: 1973). Raden Patah merupakan seorang bangsawan kerajaan Majapahit yang diperkuat oleh Prabu Brawijaya yang resmi menetap di Demak dan mengubah nama Demak menjadi Bintara. (Muljana: 2005). Raden Patah menjabat sebagai adipati di kadipaten Bintara, Demak.

Dengan bantuan daerah lain yang sudah lebih dulu memeluk Islam seperti Jepara, Tuban dan Gresik, ia mendirikan Kerajaan Islam dengan Demak sebagai pusatnya. Raden pecah sebagai adipati Islam di Demak dan memutuskan hubungan dengan Majapahit saat itu, karena kondisi Kerajaan Majapahit yang memang sedang dalam kondisi lemah. Kemunculan Kerajaan Demak dapat dikatakan merupakan suatu proses Islamisasi hingga mencapai bentuk kekuasaan politik. Apalagi kemunculan Kerajaan Demak juga dipercepat dengan melemahnya pusat Kerajaan Majapahit itu sendiri, akibat pemberontakan dan perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan. (Poesponegoro: 1984).

Sebagai pemerintahan Islam pertama di Pulau Jawa, Kerajaan Demak berperan besar dalam proses Islamisasi pada masa itu. Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam. Wilayah kekuasaan Demak meliputi Jepara, Tuban, Sedayu Palembang, Jambi dan beberapa kabupaten di Kalimantan. Selain itu, Pemerintah Demak juga memiliki pelabuhan-pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan Gresik yang telah berkembang menjadi pelabuhan transit (penghubung).

Namun sayangnya Kerajaan Demak tidak bertahan lama dan segera mengalami kemunduran akibat perebutan kekuasaan antar kerabat kerajaan sehingga pada tahun 1546 Kerajaan Demak berakhir. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Pajang merupakan perpanjangan tangan Kerajaan Demak, dengan raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Pajang adalah Jaka Materi.

KESIMPULANNYA

Sarjana India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Dwipa Hindu Jawa di Jawa dan Sumatera sekitar tahun 200 SM. Kerajaan Tarumanagara menguasai Jawa Barat sekitar tahun 400. Pada tahun 425, agama Budha merambah wilayah tersebut. Pada masa Renaissance Eropa, Pulau Jawa dan Sumatra mempunyai peninggalan peradaban yang berusia ribuan tahun dan bersama dua kerajaan besar yaitu Majapahit di Jawa dan Sriwijaya di Sumatra, sedangkan Pulau Jawa bagian barat mewarisi peradaban dari masa Renaisans Eropa. Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda. Islam sebagai pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan aktif pada abad ke-16 dan 17 dan saat ini mayoritas kedua agama tersebut terdapat di kepulauan tersebut. Penyebaran agama Islam dilakukan dan didorong melalui hubungan perdagangan ke luar nusantara. Sebab, para mubaligh atau mubaligh merupakan utusan pemerintah Islam yang datang dari luar.

Mulai tahun 1602 Belanda dan Inggris memanfaatkan secara perlahan menjadi penguasa nusantara dari perpecahan dan pemberontakan antar kerajaan-kerajaan kecil yang ada. Akibat campur tangan penjajahan kini ada negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina dan lain-lain.